Macam-macam Teh Herbal yang Bagus Untuk Kesehatan

Macam-macam teh herbal yang kaya manfaat untuk kesehatan mungkin tidak asing lagi untuk kalian dengar. Mulai dari membantu menjaga kekebalan tubuh, menjaga sistem pencernaan, melawan flu, membantu melawan stress, dan banyak lagi.

Jadi sekarang Anda sudah tahu apa manfaat kesehatan dari teh herbal. Tetapi bagaimana Anda tahu teh mana yang terbaik untuk setiap manfaat yang diinginkan? Berikut adalah daftar dari beberapa teh terbaik untuk manfaat kesehatan tertentu.

Macam-macam Teh Herbal Yang Kaya Manfaat

Teh Chamomile

Teh kamomil paling sering dikonsumsi karena efek menenangkannya, digunakan sebagai bantuan tidur dan untuk meredakan kecemasan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa minum teh kamomil dua kali sehari dapat membantu mereka yang menderita insomnia, mengurangi waktu untuk tertidur dan tetap tertidur.

Ini juga membantu meningkatkan kualitas tidur secara umum. Selain efek menenangkan, teh kamomil juga dipercaya dapat mengobati peradangan dan meredakan nyeri lambung.

Teh Rooibos

Teh rooibos memiliki banyak manfaat kesehatan. Ini bagus untuk perawatan kulit karena meredakan jerawat dan eksim. Itu juga menyembunyikan tanda-tanda penuaan dengan mengurangi kerutan berkat semua antioksidan.

Selain itu, kalsium dan fluorida dalam teh rooibos membuatnya bagus untuk kesehatan tulang. Mineral ini mengurangi kemungkinan terkena artritis dan nyeri sendi. Manfaat lainnya termasuk mengobati sakit kepala, asma, dan alergi.

Baca juga: Tips Mengurangi Stres Saat Travelling

Teh Peppermint

Jika Anda mengalami masalah dengan kesehatan pencernaan Anda, maka Anda harus mencoba minum Teh Peppermint. Teh ini membantu meredakan gejala kembung dan perut kembung, serta meredakan kejang otot.

Peppermint juga dapat membantu mengobati masuk angin dan mual. Namun, sebaiknya tidak dikonsumsi untuk masalah gangguan pencernaan atau mulas.

Masih banyak macam-macam teh herbal untuk mengatasi gangguan pencernaan ini.

Teh jahe

Teh jahe juga terbaik untuk kesehatan pencernaan Anda. Ini membantu meredakan mual dan muntah seperti peppermint, namun, jahe dapat mengobati gangguan pencernaan, mulas, dan sakit perut.

Anda dapat membantu menjaga sistem pencernaan dengan memakan suplemen fiforlif original yang terbuat dari buah goji berry.

Minum teh jahe adalah salah satu metode alami terbaik untuk mengobati peradangan, karena gingerol ditemukan di akarnya. Teh jahe juga baik untuk mengurangi ketidaknyamanan saat haid, menurunkan berat badan, dan meningkatkan fungsi otak.

Teh Echinacea

Teh echinacea paling sering digunakan untuk mencegah flu biasa. Penelitian telah menunjukkan bahwa meminumnya meningkatkan sistem kekebalan yang pada gilirannya membantu tubuh melawan virus dan infeksi. Ini juga bagus untuk mengobati hidung tersumbat dan sakit tenggorokan

Teh Rosehip

Terbuat dari tanaman mawar, rosehip mengandung vitamin C yang tinggi, yang bagus untuk kesehatan kulit dan jaringan, serta sistem kekebalan tubuh. Ia juga memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi.

Dan masih banyak lagi macam-macam teh herbal yang bagus untuk kesehatan Anda. Semoga bermanfaat

Peralatan Medis yang Ditemui di IGD

Bagi setiap rumah sakit ataupun balai kesehatan, ruang gawat darurat merupakan suatu ruangan yang memiliki fungsi sangat penting. Ada beberapa jenis ruang gawat darurat yang dikenal di dalam dunia kesehatan. Yang paling sering mengecoh masyarakat awam adalah ruang IGD dan ruang UGD. Kedua ruangan ini memiliki fungsi yang hampir sama sesuai dengan cara penyebutannya yang juga sangat mirip.

Baik IGD (Instalasi Gawat Darurat) maupun UGD (Unit Gawat Darurat) merupakan ruangan yang disediakan bagi para pasien yang membutuhkan penanganan segera. Hal ini biasanya dikarenakan kondisi dari pasien yang memang sangat genting. Perbedaan dari keduanya adalah bahwa ruangan IGD memiliki ruang lingkup yang lebih luas bila dibandingakan dengan ruangan UGD. Namun, fungsi kedua ruangan ini secara umum tetaplah sama. Dan ternyata, para pasien yang masuk ke ruangan IGD ini dikelompokkan berdasarkan seberapa serius kasus yang akan ditangani. Sistem pengelompokan para pasien ini dikenal dengan sistem triase. Sistem triase membagi para pasien IGD menjadi empat kelompok besar.

Kelompok yang pertama adalah kategori merah atau area resuitasi. Ini adalah kategori yang paling serius dan paling genting. Para pasien yang masuk ke dalam kategori merah ini biasanya mengidap penyakit jantung dan keluhan henti nafas ataupun sesak. Sehingga, pasien dalam kategori merah ini memang membutuhkan pertolongan secepat mungkin. Kelompok yang kedua adalah kategori kuning, disebut juga area tindakan. Kelompok ini termasuk kelompok pasien yang memiliki keluhan serius juga. Namun, masih bisa dinomorduakan karena keadaannya yang tidak terlalu genting.

Kelompok yang ketiga adalah kategori hijau, atau area observasi. Pasien yang masuk dalam kelompok hijau ini memiliki keluhan yang tergolong ringan dan tidak darurat. Penanganannya pun tidak mendesak dan umumnya masih bisa mencari pertolongan sendiri. Dan kelompok yang terakhir adalah kategori hitam. Kategori yang terakhir ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah tidak membutuhkan pertolongan lagi. Ataupun tidak dapat tertolong oleh pihak rumah sakit. Biasanya, pasien dalam kategori terakhir ini sudah meninggal.

Awalnya, ketika para pasien memasuki ruang IGD, para tenaga medis akan melakukan pemeriksaan menyeluruh secara cepat untuk menentukan kategori pasien. Setelah mengetahui kondisi pasien dan kategorinya, barulah pasien tersebut dapat ditangani lebih lanjut.

Pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang beberapa peralatan medis yang umum ditemui di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Namun, alat-alat yang akan diulas di bawah ini biasanya digunakan pada tahap triase untuk menentukan kategori pasien. Selamat membaca!

Stretcher

Stretcher merupakan sebuah peralatan medis yang wajib tersedia di setiap unit kesehatan. Alat ini merupakan alat yang vital karena berfungsi untuk memindahkan pasien dari mobil ambulans sampai ke ruangan IGD (Instalasi Gawat Darurat). 

Stretcher atau tandu yang pada umumnya tersedia adalah jenis ambulance stretcher. Namun ternyata, ada juga beberapa jenis stretcher lainnya yang dapat kita temui di berbagai unit gawat darurat di rumah sakit.

Ambulance stretcher berbentuk dan berfungsi sama seperti ranjang tempat tidur pasien. Namun bedanya, alat ini telah didesain sederhana sehingga mempermudah proses mobilitas pasien dari mobil ambulans ke IGD (Instalasi Gawat Darurat). Alat ini juga dilengkapi dengan roda sehingga cara menggerakkannya bisa dengan cara didorong ataupun ditarik.

Tidak jauh berbeda, ada pula jenis yang dinamakan automatic multipurpose ambulance stretcher. Dengan namanya yang cukup panjang, ternyata alat ini memiliki berbagai fungsi yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan ambulance stretcher biasa. Selain berfungsi untuk memindahkan pasien, stretcher ini juga dapat digunakan sebagai emergency bed ataupun dilipat menjadi kursi roda.

Yang selanjutnya adalah stretcher yang sederhana dan berbentuk seperti sebuah tandu yang digerakkan dengan cara diangkat. Nama dari alat ini adalah folding stretcher yang berbentuk seperti tandu yang dapat dilipat. Jenis tandu selanjutnya adalah scoop stretcher. Tandu dengan jenis ini biasa digunakan untuk mengevakuasi korban yang lokasinya tidak dapat dijangkau dengan menggunakan tandu jenis lainnya. Jenis tandu scoop stretcher ini juga dilengkapi dengan strap atau pengikat sehingga korban tidak mudah terjatuh.

Kerangka semua stretcher umumnya terbuat dari aluminium yang ringan sehingga tidak menambah beban saat diangkat. Alas tidurnya pun terbuat dari bahan yang aman dan nyaman. Tandu yang tersedia dalam berbagai bentuk dan juga warna. Namun biasanya alat ini berwarna oranye terang dan mencolok.

Pulse Oximetry

Pulse Oximetry merupakan salah satu peralatan medis yang digunakan untuk mengukur denyut nadi seorang pasien. Mungkin alat ini masih tergolong asing bagi masyarakat awam. Namun bagi kalangan yang berkecimpung dalam dunia kesehatan, alat ini tentu sudah terasa sangat familiar. Pulse oximetry atau pulse oximeter juga dapat digunakan untuk mengukur saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah pasien. Hal ini bertujuan untuk mengambil data secara umum yang dapat digunakan untuk menentukan langkah pengobatan selanjutnya bagi pasien.

Alat ini dapat mendeteksi kadar oksigen dalam darah tanpa harus dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Cara penggunaan oksimeter juga mudah dan ukurannya kecil. Hasil pengukuran oleh oksimeter ini dipampangkan dalam bentuk persentase. Serta hasil pengukuran kadar oksigennya dapat dilihat dalam SpO2. Cara kerja oksimeter adalah dengan menjepitkan salah satu jari ke celah yang ada, dan tunggu hasil pengukurannya muncul pada layar. Alat ini dilengkapi dengan sensor infra red (infra merah) sehingga akan sangat sensitif terhadap perubahan kadar oksigen pada pasien.

Berdasarkan prosedur penggunaan alat ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mengukur kadar oksigen pasien. Yaitu sebelum melakukan pengukuran, pastikan tidak ada cat kuku ataupun darah kering yang menempel pada kulit jari yang akan dijepitkan. Dan sebisa mungkin daerah yang akan dijepit terlebih dahulu dihangatkan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan menghindari kesalahan pada pengukuran jari pasien di Instalasi Gawat Darurat. Setelah jari tangan pasien dijepitkan, baringkan tangan di daerah dada tepatnya di bagian atas jantung. Dan Ketika proses pengukuran sedang berlangsung, hindari bergerak terlalu banyak karena akan turut mempengaruhi hasil pengukuran.

Tidak hanya itu, hindari penggunaan pulse oximeter pada lengan yang sedang dalam pengukuran tekanan darah otomatis. Karena hal ini akan menyebabkan terhambatnya aliran darah yang tentunya akan mempengaruhi hasil pengukuran pada pasien. Selain itu, penggunaan alat ini pada orang yang termasuk perokok adalah sebuah kesia-siaan belaka.

Sphygmomanometer

Ketika mendengar atau membaca kata ini, maka Sebagian orang mungkin akan kesulitan untuk mengetahui alat apakah yang dimaksud. Namun ketika telah melihat bentuk dan penampakan dari alat ini, maka masyarakat umumnya pasti mengetahui dan familiar dengan alat ini. Sphygmomanometer merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan sebuah peralatan medis yang digunakan untuk mengukur tekanan darah seseorang. Istilah lain yang lebih dikenal di masyarakat awam untuk menyebut alat ini adalah tensimeter.

Tidak seperti pengukur tekanan darah konvensional, sphygmomanometer merupakan alat yang sangat canggih dan sudah beradaptasi dengan zaman modern. Alat ini sudah dioperasikan dengan sistem digital dan tingkat akurasinya semakin membaik. Alat ini juga merupakan salah satu peralatan kesehatan yang wajib ditemui dalam Instalasi Gawat Darurat. Karena mengetahui tekanan darah merupakan salah satu prosedur yang sangat penting untuk mengetahui kondisi seorang pasien. Hal ini juga dapat menjadi dasar bagi tenaga medis untuk mengelompokkan pasien ke berbagai kategori dalam triase.

Alat ini dapat mengukur tekanan darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh pasien. Sphygmomanometer juga dapat mengetahui berapa tekanan darah pada saat keluar dari jantung dan saat masuk Kembali ke dalam jantung. Penyakit yang berhubungan dengan alat ini adalah hipertensi dan hipotensi. Hipertensi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keadaan pasien dengan tekanan darah di atas batas normal. Sedangkan hipotensi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keadaan pasien dengan tekanan darah di bawah batas normal.

Kursi Roda

Kursi roda atau wheel chair merupakan salah satu peralatan medis yang umum ditemui di Instalasi Gawat Darurat. Kursi roda ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu para pasien dengan keluhan susah berjalan dengan normal. Baik karena adanya penyakit, korban cedera, maupun cacat sedari lahir. Alat ini sangat penting dalam proses mobilitas pasien sehingga dapat ditangani dengan cepat dan maksimal.

Ada beberapa jenis kursi roda yang populer di kalangan masyarakat umum dan di dunia kesehatan. Namun, yang paling sering tersedia pada IGD (Instalasi Gawat Darurat) adalah jenis kursi roda manual. Kursi roda manual ini sesuai dengan namanya digerakkan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia tanpa sentuhan teknologi. Biasanya dengan cara diputar di bagian rodanya oleh pasien itu sendiri. Bagi pasien yang memiliki cacat pada bagian tangan, tentu membutuhkan tenaga dari kerabat, keluarga pasien atau tenaga medis sendiri.

Thermometer

Thermometer adalah salah satu peralatan medis yang umum ditemui mana saja, termasuk di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Fungsi utama dari alat ini adalah untuk mengukur suhu tubuh seorang pasien dan suhu benda lainnya. Hal ini tentu saja menjadi suatu proses yang sangat penting dalam serangkaian pemeriksaan awal untuk menentukan kategori pasien dalam triase. Ternyata, ada beberapa jenis thermometer yang cukup populer di dalam dunia kesehatan.

Jenis thermometer yang pertama adalah thermometer digital . Thermometer ini adalah yang paling umum digunakan secara sederhana yang biasa terdapat di klinik atau bahkan di rumah. Karena alat ini mengukur suhu paling cepat dan paling akurat. Hal ini dikarenakan thermometer digital memiliki sensitivitas yang baik. Selain itu, jenis thermometer ini juga yang paling mudah ditemukan baik di toko obat atau mungkin di supermarket. Thermometer ini dapat digunakan pada beberapa bagian tubuh tertentu seperti mulut, daerah ketiak, dan anus.

Jenis thermometer yang selanjutnya akan kita ulas adalah thermometer air raksa. Alat ini berbahan dasar kaca yang didalamnya terdapat cairan merkuri yang dapat digunakan untuk mengukur suhu. Thermometer air raksa sudah populer jauh sebelum ditemukannya jenis thermometer digital. Namun saat ini, thermometer ini sudah jarang digunakan dan tidak dianjurkan oleh pihak medis. Karena bila alat ini pecah atau kacanya mengalami kebocoran tentu akan berdampak buruk bagi pasien yang menggunakan. Maka bila masih menggunakan thermometer jenis ini, berhati-hatilah saat menggunakan bahkan saat membuangnya demi mencegah munculnya bahaya.

Thermometer inframerah. Thermometer jenis ini memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh jenis thermometer lainnya. Yaitu bahwa pengukuran dengan menggunakan alat ini tidak perlu menyentuh bagian tubuh pasien. Cukup dengan mengarahkan dan mendekatkan thermometer inframerah ini, dapat memperoleh hasil pengukurannya.

Stetoskop

Stetoskop adalah alat yang biasanya menjadi lambang khusus bagi para dokter dan perawat yang bekerja di bidang kesehatan. Bentuk dari peralatan medis ini adalah seperti sebuah kalung besar yang biasanya melingkari leher para tenaga medis. Seiring perkembangan zaman, maka bentuk dan warna stetoskop ini pun turut berkembang. Kini, stetoskop hadir dengan warna-warna yang cerah dan indah menghiasi leher para tenaga medis. Asal mula kata stetoskop ternyata berasal dari Bahasa Yunani. Yaitu “sthetos” yang berarti dada dan juga “skopeein” yang berarti memeriksa. Secara umum, fungsi dari stetoskop adalah mendengar frekuensi detak jantung dan juga irama pernapasan para pasien. Namun, alat ini juga dapat digunakan untuk mengetahui aliran darah dalam pembuluh arteri dan juga pembuluh vena.

Sejarah mencatat stetoskop pertama kali ditemukan sekitar tahun 1816 di negara Prancis. Penemu alat ini bernama René Théophile Hyacinthe Laennec ketika menjalankan praktik. Diketahui bahwa pria ini menemukan alat bernama stetoskop agar tidak perlu menempelkan telinganya pada dada seorang wanita saat melakukan pemeriksaan. Pada zaman dahulu, dokter maupun tenaga medis lain yang melakukan pemeriksaan akan menempelkan telinganya pada dada pasien. Hal ini dilakukan dengan tujuan dan harapan akan mendengar sesuatu yang dapat membantu proses diagnosis pasien.

Secara umum, stetoskop ada dua jenis. Yaitu jenis stetoskop akustik dan juga elektronik. Hingga saat ini, umumnya tenaga medis menggunakan stetoskop jenis akustik.

Timbangan Badan

Terlihat sepele, namun timbangan badan tenyata juga merupakan peralatan medis yang umum ditemukan di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Secara umum, ada dua jenis timbangan yang biasa ditemukan sekarang ini. Yaitu ada timbangan analog dan juga timbangan digital.

Timbangan analog merupakan jenis timbangan yang menunjukkan hasil pengukuran berat dengan angka melengkung yang bergerak. Sistemnya kira-kira mirip seperti penggaris yang dibengkokkan dan bergerak. Tiap garis biasanya berjarak satu kilogram. Dan ukuran garis pun semakin tebal setiap mencapai lima kilogram ataupun sepuluh kilogram. Hasil dari pengukuran berat badan ditunjukkan oleh garis lurus berwarna merah ataupun berwarna hitam. Dalam menentukan hasil pengukuran, para tenaga medis harus teliti karena hasilnya tidak terlalu spesifik.

Berbeda dengan timbangan analog, jenis timbangan kedua adalah timbangan digital. Timbangan jenis ini terbilang lebih mudah dalam prosedur pembacaan hasilnya. Karena pasien ataupun tenaga medis hanya perlu melihat angka yang dimunculkan oleh timbangan secara digital. Bahkan biasanya, tingkat ketelitian angka yang dimunculkan lebih spesifik bila dibandingkan dengan timbangan analog. Yaitu dapat mencapai dua hingga tiga angka di belakang koma. Kedua jenis timbangan ini tentu dapat ditemukan di dalam IGD (Instalasi Gawat Darurat) di rumah sakit.

Demikianlah ulasan singkat mengenai peralatan medis yang umum ditemukan di IGD (Instalasi Gawat Darurat). Alat-alat yang diulas di atas umumnya digunakan untuk prosedur triase yaitu menentukan kategori pasien untuk ditangani lebih lanjut. Semoga artikel ini dapat membantu para pembaca.